APAKAH KERIS BUATAN EMPU MOYOGATI BISA DISEBUT BERTANGGUH BAGELEN?

Keris Pamor Bagelen


Sastrawan Online, Purworejo 1/7/2023-

Konon Empu keris di desa Ngadiboyo nganjuk yang bernama mpu Moyogati pernah singgah di Bagelen saat perang jawa, empu Moyogati merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Yang konon Dulu Pangeran Diponegoro atau para pengikutnya punya markas di daerah Bagelen. Empu Moyogati adalah Salah satu pembuat senjata untuk pasukan Diponegoro, selain Empu Guno Sasmito mageti.


Setelah P. Diponegoro ditangkap Belanda, Empu Moyogati bersembunyi di hutan Nganjuk sampai sekarang keturunannya masih ada di desa Ngadiboyo- adalah suatu daerah (desa) yang terletak di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Mungkin nama (tangguh) yang satu ini agak kurang familiar di telinga perkerisan nasional, juga Ngadiboyo termasuk tangguh madya karena di produksi hanya pada saat perang jawa yaitu antara 1825-1830 serta diberikan kepada pasukan serta masyarakat pendukung pangeran Diponegoro. 1825-1830, sekalipun mungkin setelah perang Diponegoro empu moyogati masih memproduksi keris serta produknya setelah perang Diponegoro tersebar di jawa Timur. 

Tahun 1825-1830 Rentang waktunya yang masih belum terlalu lama, adanya sumber pitutur lisan para sesepuh, jejak-jejak petilasan, alat-alat besalen hingga masih bisa dirunut kepada keturunan-keturunannya menjadikan tangguh Ngadiboyo layak mendapat tangguhnya sendiri serta menarik untuk di eksplore untuk menambah wawasan pengetahuan perkerisan. Karena jika kita buka catatan atau dokumentasi antropologi sosial, seperti The History of Java yang menjadi salah satu sumber sejarah untuk mengetahui kehidupan masyarakat Jawa di masa lalu, mencakup keadaan geografis, informasi kependudukan, pertanian, kepercayaan dan upacara keagaaman, bahasa serta hal-hal lainnya seperti Empu/Pande Senjata, di daerah Jawa Timur Thomas S Raffles mencatat diantaranya :

"Di Nganjuk hidup empu pribumi Musnadi di Desa Tjepaka. Bagaimanapun, dia memahami seni menempa pamor, tetapi dia sudah tidak berlatih selama tujuh tahun, sebab pekerjaan untuk keris (untuk 15- 30 hari) itu hanya dihadiahi dengan ƒ 4 – ƒ 6 (Simbol ƒ atau fl. untuk gulden Belanda berasal dari mata uang lama lainnya, yaitu florijn, yang disebut florin dalam bahasa Indonesia), sehingga dia masih menekuni lagi usahanya dalam bidang pekerjaan lainnya dengan memproduksi perkakas pertanian.

Di Magetan ada yang sudah meninggal yaitu Empu Kyai Guna seorang yang terkenal, dengan tempaan keris-kerisnya dengan banyak pamor garis-garis, sementara di Desa Semen tinggallah Moestapa, yang berlatih seni menempa pamor yang disebutkan. Membeli pamor (diduga dengan jenis besi yang sedikit lapisan nikelnya) di toko orang Cina dengan harga ƒ 2.50 per katie. Sepertinya seni menempa pamor di Magetan merosot, bahwa motif pamor atau hanya sedikit sekali garis-garis yang muncul (menggunakan besi yang berisi nikel sedikit dalam jumlah kecil), atau kadang-kadang ada muncul tanpa metode yang tersusun dari substansi bawah.

Di Madiun masih tinggal pande besi senjata di Desa Batoe dari distrik Tjaruban, yang dapat memperbaiki pamor, tetapi hanya berkerja jika dia menerima perintah."


Konon menurut cerita dari tokoh masyarakat ngadiboyo, pada jaman Perang Diponegoro pernah ada seorang pelarian dari barat , kemudian bersembunyi dan menetap mendirikan padepokan di Desa Ngadiboyo, dikenal dengan nama Mpu Moyogati. Sampai saat ini jejak  peralatan besalen seperti ububan (Sejenis pompa, terdiri atas dua tabung kayu yang bentuknya persis dengan pompa-pompa yang kita kenal di bengkel-bengkel, sekarang alat ini diganti menggunakan blower), supit (sejenis tang dengan ukuran yang berbeda-beda, sebagai alat memegangi besi yang dibakar atau ditempa), kowen (tempat air untuk mendinginkan alat-alat), hingga petilasan (sumur gede) masih bisa dijumpai dan disimpan oleh ahli warisnya.


Data sementara urutan silsilah Empu Ngadiboyo adalah :

Empu Ngadiboyo I (Empu Moyogati) membuat keris sekitar tahun 1825-1860.

Empu Ngadiboyo II (Empu Kriyogati) sekitar tahun 1860-1930.

Empu Ngadiboyo III (Empu Morogati/al. Trunogati/Glinsong) sekitar tahun 1930-1990

Sayang sepeninggalan Empu Ngadiboyo III generasi selanjutnya ke-4 Said dan lalu generasi ke-5 sekarang yaitu Sonodiwiryo (Lamidi) memilih tidak melanjutkan tradisi leluhurnya sebagai penempa besi aji tapi menjadi pande besi untuk alat pertanian dan peternakan juga berprofesi sebagai petani bawang merah.


Adapun ciri-ciri keris yang diduga dibabar oleh Mpu Moyogati yang dipercaya hidup se-era dengan Mpu Guno Sasmito Utomo (Mageti I) adalah sebagai berikut :

1. Keris kebanyakan berbentuk lurus berdhapur Tilam atau Brojol, dengan panjang kecil hingga sedang (15-35 cm) dengan gandik amboto ngadeg dan amboto miring.

2. Bentuk gonjo agak tinggi (tebal), dengan sirah cecak tidak lancip benar dan tidak buweng (menter lancip/kacok), bagian ekor gonjo buntut urang mekrok mirip nom-noman.

3. Wasuhan besi agak mentah berwarna keabuan dengan pamor cenderung kelem (tidak byor), kemungkinan banyak menggunakan baja, mirip dengan besi buatan Empu Mageti I karena memang digunakan untuk perang.

4. Bagian Pesi dibuat besar dan panjang sekitar 6-7 cm, berbentuk gilig (silinder), hampir sebesar jari kelingking dan pada ujung pesinya terdapat “tetenger Heru Chokro” berupa guratan melintang lurus (diduga kuku sang Empu), dan menurut sumber lain ada yang berbentuk tapak jalak (tanda +), atau puntiran (lung wi) dan berbentuk cincin. Dengan dimensi pesi yang besar, seringkali menjadikan bagian perut gonjo ‘terdesak’ seolah tampak tidak rapat dengan bilah... 


Tosan aji sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Bangsa Kita Indonesia. artefak dan sebaran Keris Ngadiboyo cukup banyak berada di Kabupaten Nganjuk, Kediri, Jombang, Bojonegoro dan sekitarnya. Keris Ngadiboyo memiliki karakter yang khas :  panjang bilah relatif pendek, sampai sedang (15cm - 35cm) banyak menggunakan baja (pengawak waja), berkesan tebal,kekar, dan kuat walau sedikit kurang panjang. Ganja cukup tebal, buntut urang melebar ke belakang dan mekrok sesuai ciri Keris Nom-noman, Sirah cecak Kagok tidak lancip benar, dan juga tidak buweng (membulat), wasuhan besi agak mentah berwarna keabu-abuan, dengan pamor bervariasi ada yg mlumah dan ada yg miring, tetapi terkesan tidak mubyar, banyak yang perpamor kelem atau kusam. Pesi dibuat khusus, besar dan panjang berbentuk silinder (gilig) besarnya hampir seujung jari kelingking pria, dan panjangnya sekitar 6-7 cm. Pada ujung pesi juga terdapat tetenger "Heru Cokro" (signature) berupa garis melintang (-) atau tapak jalak (+) atau guratan menyerupai cincin bersusun 3 atau 4 ada pula yg puntiran (lung Wi).

 Empu Moyogati yg selanjutnya kita sebut Empu Ngadibaya I, adalah seorang Empu Pinunjul yg mengabdi menjadi lasykar Pangeran Diponegoro saat berkobar perang Jawa 1825-1830 M.

Konon sang Empu juga bersahabat dgn Empu Guno Sasmito Mageti. Pada saat P. Diponegoro ditangkap Kompeni, Empu Moyogati melarikan diri kearah timur bersama 3 org Empu lainnya yaitu Empu Setejo Gunung Punjul, Empu Sembung Berbek, dan Empu Janas Karangsono. Yang belum diketemukan artefak berupa peralatan tempa, besalen, data silsilah keluarga, dll.sebagaimana dimiliki oleh Empu Moyogati di Desa Ngadiboyo Rejoso Nganjuk. Memang untuk Empu Moyogati pun hanya memperoleh sedikit catatan dan cerita tutur dari Keluarganya, para sesepuh, dan pemerintah Desa Ngadiboyo. Namun setidaknya telah mendapatkan gambaran awal mengenai generasi Empu Moyogati, sbb :

1. Empu Moyogati (Ngadiboyo I)

2. Empu Kriyogati (Ngadiboyo II)

3. Empu Morogati alias Galengsong (Ngadiboyo III) sumber lain ada yg mengatakan Morogati sbg Trunogati.

4. Mbah Said dan 3 Saudara perempuannya : Mbah Pah, Mbah Saerah, dan Mbah Nyanah, tidak lagi meneruskan profesi Empu Keris (masa vacum).

5. Mbah Lamidi alias Sonogati alias Sonodiwiryo, bersama sepupunya Mbah Taki anak Mbah Saerah, meneruskan profesi hanya sebagai Pande pembuat alat2 pertanian juga petani bawang. 

Ada beberapa orang yang menganggap keris ngadiboyo juga disebut sebagai tangguh bagelen karena empu moyogati saat perang Diponegoro berlangsung pernah singgah di bagelen serta memproduksi senjata perang seperti keris, pedang dsbnya untuk laskar Diponegoro juga masyarakat pendukung Diponegoro.


Bentuk pasikutan Keris2 ngadiboyo, walau tampak bervariasi dlm pembuatan garap ricikan, mereka dapat menampilkan Kaidah Keris yg satu rumpun dan satu "leluhur" yakni Ciri Khas Empu Moyogati. Katakan Gandik, sogokan, kembang kacang, gonjo, greneng, pesi dan jenis besi rata-rata bercita rasa Empu Ngadiboyo. Sehingga perlu diinventarisasi dan klasifikasi untuk mendapatkan kesimpulan, siapakah Empu Pembuat Keris-Keris Ngadiboyo tersebut, apakah Empu Ngadiboyo I, II, atau III  Yang akhirnya akan memperkaya khasanah Budaya Perkerisan Kita. Dan tentunya keris, pedang yang konon di buat di bagelen oleh empu moyogati bertahun 1825-1830 saat perang Diponegoro berlangsung lalu setelah pangeran Diponegoro tertangkap empu moyogati melarikan diri di desa Ngadiboyo, nganjuk.


( Sawunggaling Adi )




Komentar